Kamis, 14 Februari 2013

evaluasi pendidikan matematika



BAB 1
Pendahuluan
1.1  Pengertian Evaluasi
Istilah evaluasi berasal dari sebuah kata dalam bahasa Inggris, yaitu “evaluation”. Norman E. Gronlund (1976: 3) menyetakan bahwa “Evaluation includes a number of techniques that are indispensable to the teacher… . However, evaluation is not merely a collection of techniques – evaluation is a process – it is a continuous process which underlies all good teaching and learning.’’ Evaluasi mencakup sejumlah teknik yang tidak bisa diabikan oleh seorang guru. Evalusi bukanlah sekumpulan teknik semata-mata, tetapi evalusi merupakan suatu proses yang berkelanjutan yang mendasari kesedluruhan kegiatan melajar mengajar yang baik. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa evalusi merupakan suatu proses yang sistematik dan sinambung, untuk mengetahui sampai sejauh mana efisiensi kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan dan efektivitas pencapaian tujuan instruksional yang telah ditetapkan.
Dalam rangka kegiatan belajar mengajar, selanjutnya Norman E. Gronlund (1976: 6) menyatakan bahwa ‘‘evaluation may be difined as a systematic process of determining the extent to which intructional objectives are achieved by pupils.’’ Evaluasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses sistematik dalam menentukan tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa.
Edwin Wand dan Gerald W. Brown (1957: 1) menyatakan bahwa ‘‘... evaluation refer to the act or process to determining the value of something ...’’Evaluasi berkenaan dengan kegiatan atau proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Sesuai dengan pendapat di atas, evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan atau proses untuk menentukan nilai dari segala sesuatu yang berkenaan dengan pendidikan.
Witherington (1980: 24) menyatakan bahwa ‘‘... an evaluation is a declaration that something has or does not has value ...’’ Evaluasi adalah pernyataan bahwa sesuatu itu mempunyai nilai atau tidak.
Mechrens dan Lechman (1984: 5) menyatakan bahwa ‘‘... evaluation is determination of the congruence between performance and objectives ...’’ Evaluasi diartikan sebagai penentuan kesesuaian antara tampilan dengan tujuan-tujuan.
Dari pengertian-pengertian evaluasi yang telah dikemukakan di atas menunjukkan bahwa evaluasi sifatnya lebih luas daripada pengukuran. Evaluasi meliputi aspek kuantitatif dan kualitatif. Pengukuran hanya terbatas pada deskripsi kuantitatif, sedangkan evaluasi selain menyangkut pengukuran tersebut berlanjut dengan pemberian nilai berupa keputusan-keputusan maupun nilai tingkah laku yang diukur. Dengan demikian istilah evaluasi , pengukuran, dan penilaian dapat dibedakan. Istilah pengukuran menunjuk pada segi kuantitas (how much), istilah penilaian menunjuk pada segi kualitas (what value), dan istilah evaluasi berkenaan dengan keduanyaa, yaitu pengukuran dan penilaian.
Antara evaluasi, pengukuran, dan penilaian terdapat hubungan yang erat yang tidak dapat dipisahkan. Norman E. Gronlund (1976: 6) melukiskan hubungan ketiganya sebagai berikut ini.
1.      Evaluasi adalah deskripsi kuantitatif siswa (measurement, pengukuran) yang ditetapkan dengan penentuan nilai
2.      Evaluasi adalah deskripsi kualitatif siswa (judgement, pertimbangan, penilaian) yang ditetapkan dengan penentuan nilai.
Berikut beberpa contoh dalam kehidupan sehari-hari.
a.       Seorang calon guru dinilai telah mempunyai kualitas mengajar yang baik melalui ‘‘ukuran’’ penglaman dan tingkat pendidikannya. Tingkat pendidikan guru lebih tinggi dan pengalaman mengajar lebih banyak menentukan nilai kualitas guru yang lebih baik pula.
b.      Masyarakat seringkali menilai kualitas dari suatu lembaga pendidikan dilihat dari ‘‘ukuran’’ jumlah siswa yang lulus sipenmaru atau rata-rata NEM yang diperoleh pada Ebtanas.

1.2  Fungsi Evaluasi
1)      Sebagai Alat Seleksi
Evaluasi dapat digunakan melakukan penyaringan (seleksi) dalam penerimaan siswa baru dari suatu sekolah.
2)      sebagai Alat Pengukur Keberhasilan
Fungsi evaluasi sebagai alat pengukur keberhasilan adalah untuk mengukur seberapa jauh tujuan intruksional dapat dicapai setelah kegiatan belajar mengajar dilaksanakan.
3)      Sebagai Alat Penempatan
Sejak lahir setiap siswa telah membawa bakat sendiri-sendiri, sehingga pelajaran akan lebih efektif apabila disesuaikan dengan pembawaan siswa.
4)      Sebagai Alat Diagnostik
Seorang guru yang rajin dan cermat, apabila telah melaksanakan evaluasi, ia tidak selesai hanya sampai dengan pemberian nilai untuk masing-masing siswa, tetapi diteruskan dengan memeriksa setiap jawaban yang diberikan oleh siswa pada setian butir soal.
1.3  Tujuan Evaluasi
Sesuai dengan fungsi evaluasi yang telah dikemukakan, evaluasi mempunyai tujuan seperti berikut ini.
1.      Dalam fungsi evaluasi sebagai alat seleksi terkandung di dalamnya tujuan evaluasi, yaitu untuk mendapatkan calon siswa pilihan yang cocok dengan suatu jurusan dan jenjang pendidikan tertentu.
2.      Dalam fungsi evaluasi sebagai alat pengukur keberhasilan dan diagnostik mengetahui seberapa jauh hasil yang telah dicapai dalam proses pendidikan yang telah dilaksanakan.
3.      Dalam fungsi evaluasi sebagai alat penempatan (replacement), evaluasi bertujuan untuk mentukan pendidikan lanjutan siswa agar sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya.
4.      Evaluasi dalam rangka kegiatan belajar mengajar yang dikenal dengan istilahtes awal, yaitu evaluasi yang dilaksanakan sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui taraf kesiapan siswa dalam memahami bahan pelajaran yang akan dipelajarinya.
5.      Dalam rangka promosi, evaluasi bertujuan untuk mendapatkan bahan informasi dalam menentukan siswa untuk naik kelas atau mengulang pada tingkat kelas yang sama.
6.      Secara intuitif, seorang guru dalam mengajar telah berusaha untuk memilih metode mengajar yang lebih tepat sesuai dengan kondisi siswa, lingkungan, ataupun sifat materi yang disajikan.Di sini evaluasi bertujuan untuk mengetahui taraf efisiensi metode yang digunakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar